Surat Umar bin Khattab Untuk Sungai Nil

Tahukah Anda sungai nil yang terkenal sebagai sumber kehidupan masyarakat Mesir ternyata dahulu pernah berhenti mengalir dan bahkan kering airnya. Tidak hanya itu kejadian tersebut rutin terjadi setiap tahun di masa-masa sebelum datang Islam ke negeri Mesir. Diawali kepercayaan masyarakat Mesir yang meyakini sungai nil ada “jin penunggunya”, sehingga mereka selalu memberikan semacam tumbal berupa anak gadis yang cantik dan masih perawan untuk kemudian diserahkan dengan cara dilemparkan ke dalam sungai nil. Tujuannya tiada lain supaya sungai nil terus mengalir dan memberikan kesuburan untuk tanah dan kehidupan mereka.

Awal mula kisah ini di mulai pada zaman pemerintahan Amr Bin ‘Ash di Mesir sekitar tahun 20 Hijriyah. Pada saat itu, kekhalifahan dipegang oleh Umar bin Khattab r.a dan beliau memilih Amr Bin ‘Ash r.a sebagai wakilnya atau sebagai gubernur di Mesir.

Sejak zaman dahulu dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun apabila setiap tahun Sungai Nil akan diberikan tumbal berupa korban agar sungai tersebut terus mengalirkan airnya. Karena ini merupakan salah satu yang paling dibutuhkan oleh rakyat Mesir untuk mengairi sawah dan ladang dan untuk keperluan berbagai hal.

Dikisahkan, suatu hari, rakyat Mesir mendatangi Gubernur Amr Bin ‘Ash. Mereka berkata, “Wahai Amr, kami memiliki tradisi untuk Sungai Nil, yang dengan tradisi tersebut sungai ini bisa terus mengalir.”

Amar bin ‘Ash kemudian bertanya, “Tradisi apakah itu?”

Lalu penduduk Mesir tersebut menjawab, di bulan tertentu dan di malam tertentu kami akan mengambil seorang perawan yang paling cantik dan paling sempurna, kemudian kami hiasi dia dengan berbagai perhiasan yang akan membuatnya tampil lebih cantik dan sempurna. Selain perhiasan kami juga memberikannya pakaian yang indah dan kemudian akan dibuang ke Sungai Nil sebagai korban.”

Dari keterangan penduduk atau rakyat Mesir tersebut, Amr Bin ‘Ash langsung secara tegas menolak perbuatan sadis tersebut. Tidak hanya sadis, namun tradisi tersebut adalah tradisi yang di dalam Islam sangat dilarang, karena sama saja dengan berbuat syirik atau menyekutukan Allah.

Jawaban sang Gubernur membuat rakyat Mesir terdiam dan menerima apa yang diperintahkan oleh Gubernur.

Namun tidak disangka-sangka, karena tidak menjalani ritual tersebut, Sungai Nil pun menjadi benar-benar kering. Setelah sekian waktu berlalu hingga beberapa bulan, air Sungai Nil benar-benar berhenti mengalir. sehingga rakyat Mesir pun mulai kesulitan untuk bisa hidup. Sawah mereka tidak bisa diairi, mereka kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sehingga mereka secara perlahan mulai menyangsikan keputusan dari gubernur tersebut. Tidak hanya itu, penduduk Mesir pun mulai bersiap-siap untuk mengungsi.

Mendapati kenyataan yang demikian, Amr Bin ‘Ash merasa bertanggung jawab dan tidak menemukan solusi untuk masalah ini. Sehingga beliau pun berkirim surat kepada Umar bin Khattab yang menjadi khalifah untuk memberikan solusi secepatnya.

Setelah berkirim surat kepada Khalifah Umar, beberapa waktu kemudian Amr Bin ‘Ash pun mendapatkan surat balasan. Surat balasan yang pertama yang diperuntukkan untuk gubernur mengingatkan bahwa, kebijakan yang beliau ambil sudah tepat. Namun tidak hanya satu surat yang datang, melainkan dua buah surat. Surat yang kedua adalah surat dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a kepada Sungai Nil.

Untuk surat kedua, Umar bin Khattab r.a memerintahkan sang gubernur agar melemparkannya ke dasar Sungai Nil.

Dan Amr Bin ‘Ash pun segera pergi ke tepi sungai Nil untuk melakukan perintah tersebut. Beliau melemparkan surat Umar ke dasar sungai tersebut.

Dan sungguh ajaib, atas izin Allah, di keesokan harinya, Sungai Nil kembali mengalir. Bahkan mengalir dengan air yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Apa sebenarnya isi surat Umar r.a kepada Sungai Nil tersebut?

Menurut Amr Bin ‘Ash, isi surat tersebut kurang lebih:

“Dari hamba Allah Umar bin Khattab kepada Sungai Nil milik penduduk Mesir, Amma ba’du : “jika engkau mengalir karena dirimu dan atas keinginanmu sendiri, maka tidak usah kau mengalir dan sungguh kami tidak membutuhkanmu karena hal itu. Tetapi jika engkau mengalir karena perintah Allah Yang Maha Satu dan Perkasa, sebab Dia-lah yang membuatmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir.

Begitulah isi surat Amirul Mukminin kepada sungai nil yang kemudian membuatnya kembali mengalir. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita yang seharusnya lebih percaya kepada Allah dibandingkan dengan hal-hal lain yang kita anggap bisa memberikan mudharat maupun manfaat.

Follow akun media social kami untuk mengikuti artikel inspiratif seperti ini:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s